Kanker Kolorektal

Kanker usus besar (kolon) dan daerah antara usus besar dan anus (disebut rektum) memiliki banyak persamaan, dan oleh sebab itu seringkali secara bersama-sama disebut dengan kanker kolorektal. Usus besar dan rektum adalah bagian dari sistem pencernaan yang memproses makanan yang kita makan dan membuang sisa makanan dari tubuh. Kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum.

Foto: yellowtownnaturopathic.com

Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma, yang pada awalnya membentuk polip. Polip dapat diangkat dengan mudah namun seringkali adenoma tidak menampakkan gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar. Kanker kolorektal ini dapat menyebar keluar jaringan usus besar dan ke bagian tubuh lainnya.

Insiden Kanker Kolorektal

  • Menurut data Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO), diperkirakan 608.000 orang meninggal karena kanker kolorektal setiap tahunnya ini berarti sekitar 1.666 orang meninggal setiap harinya.

  • Merupakan satu-satunya kanker yang dapat mengenai pria maupun perempuan dengan estimasi frekuensi yang hampir sama (dari jumlah seluruh penderita kanker pada pria, 10.01% terkena kanker kolorektal sedangkan pada perempuan mencapai 9.44% dari jumlah total penderita kanker) dan estimasi kasus baru di dunia sebanyak 663.904 pada pria per tahunnya dan 571.204 pada perempuan. Jumlah kasus baru di dunia cenderung meningkat secara cepat sejak tahun 1975. 2,3

  • Diperkirakan lebih dari 50% penderita kanker kolorektal meninggal karena penyakit ini2

  • Di Eropa dan Amerika pada tahun 2004, kanker kolorektal menempati urutan kedua sebagai kanker yang paling sering terjadi pada pria dan perempuan, dan juga merupakan penyebab kematian nomor dua tersering. 4,5,6

  • Kanker kolorektal secara predominan terjadi pada kelompok usia diatas 50 tahun, meski demikian juga dapat mengenai kelompok usia dibawah 40 tahun dengan insiden yang bervariasi. Di Amerika dan Eropa 2-8% kanker kolorektal terjadi pada usia dibawah 40 tahun.7

    Faktor Risiko

    Penyebab pasti kanker kolorektal masih belum diketahui, tetapi kemungkinan besar disebabkan oleh:

    • Usia –Mayoritas orang yang didiagnosa kanker kolorektal telah berusia diatas 50 tahun. Meski demikian, kanker ini bisa juga dialami orang yang lebih mudah.

    • Pernah mengalami kanker kolorektal atau memiliki polip pada usus

    • Memiliki kondisi radang usus

    • Memiliki sindrom yang dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal

    • Memiliki sejarah keluarga dengan kanker kolorektal dan polip pada usus

    • Pola makan yang tidak sehat (asupan makanan yang tinggi lemak dan protein, rendah serat)

    • Jarang melakukan aktivitas fisik

    • Memiliki diabetes

    • Obesitas

    • Merokok

    • Konsumsi alkohol

    • Pernah menjalani terapi radiasi yang ditujukkan ke bagian perut

    Gejala

    Gejala-gejala kanker kolorektal meliputi:

    • Pendarahan pada usus besar, ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar

    • Perubahan kebiasaan buang air besar meliputi frekwensi dan konsistensi buang air besar (diare atau sembelit) tanpa sebab yang jelas, berlangsung lebih dari enam minggu

    • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas

    • Rasa sakit di perut atau bagian belakang

    • Perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar

    • Rasa lemah atau kelelahan

    Kadang-kadang kanker dapat menjadi penghalang dalam usus besar yang tampak pada beberapa gejala seperti kesakitan, sembelit, sulit buang air besar dan rasa kembung di perut.

    Penyebab

    Penyebab kanker kolorektal belum diketahui. Secara umum, dokter mengetahui bahwa kanker secara umum terbentuk ketika sel sehat mengalami perubahan dan melakukan pembelahan diri yang tidak terkendali. Sel yang berlebihan ini kemudian mengalami penumpukan pada lapisan usus. Dalam jangka waktu yang lama (hingga beberapa tahun), penumpukan sel ini bisa menjadi kanker.

    Pertumbuhan sel-sel prakanker yang berpotensi menjadi kanker pada usus besar

Kanker kolorektal biasanya diawali dengan gumpalan sel-sel prakanker (polip) pada bagian dalam lapisan usus. Polip seringkali terlihat berbentuk jamur. Sel-sel prakanker ini bisa juga rata dan tersembunyi di dalam usus besar (lesi non-polypoid). Pengangkatan polip dan lesi non-polypoid sebelum menjadi ganas bisa mencegah kanker kolorektal.

Memiliki keturunan mutasi gen yang meningkatkan risiko kanker kolorektal

Memiliki mutasi gen dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal bisa diturunkan dari keluarga. Meski demikian, gen ini tidak membuat kanker tidak bisa dihindari tapi bisa meningkatkan risiko kanker secara signifikan. Sindrom kanker kolorektal yang diturunkan dari keluarga:

  • Polip adenomatosa familial (Familial Adenomatous Polyposis, FAP)

Kondisi ini jarang terjadi. FAP menyebabkan bertumbuhnya ribuan polip pada lapisan kolon dan rectum. Pasien yang memiliki FAP dan tidak ditrerapi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk membentuk kanker kolorektal sebelum memasuki usia 40 tahun.

  • Kanker kolorektal non polip (Hereditary Non-Polyposis Colorectal Cancer, HNPCC)

HNPCC juga disebut Lynch Syndrome. HNPCC berpotensi membentuk kanker kolorektal sebelum mencapai usia 50 tahun. FAP dan HNPCC dapat dideteksi melalui pemeriksaan genetik.

Deteksi dini dan skrining

Dilakukan pada kelompok risiko tinggi, yaitu dengan pemeriksaan :

  • Pemeriksaan tes darah samar pada feses (Fecal Occult Blood Test/FOBT)

Pemeriksaan sederhana ini merupakan pemeriksaan penapisan awal kanker kolorektal, dilakukan dengan mengambil contoh feses yang diletakkan pada kartu khusus dan diuji menggunakan reagent tertentu . Kartu ini akan berubah warnanya jika feses tersebut mengandung darah.

*) Reagent adalah sejenis cairan yang digunakan untuk menghasilkan reaksi kimia yang bermanfaat bagi para peneliti untuk mendeteksi, mengukur, menghasilkan atau mengubah bentuk suatu zat. (MedicineNet.com)

  • Sigmoidoskopi fleksibel

Pipa/ selang kecil dan tipis berkamera dimasukkan ke rektum sehingga dokter bisa melihat melalui layar monitor ke dalam rektum dan ke bagian pertama dari usus besar dimana separuh dari polip biasa ditemukan. Pemeriksaan ini dilakukan setiap 5 tahun.

  • Kolonoskopi

Merupakan tes yang paling akurat. Pipa/ selang elastis yang panjang dan kecil dimasukkan kedalam rektum sehingga dokter bisa melihat keseluruhan usus besar, mengambil polip dan mengambil contoh jaringan untuk dilakukan biopsi. Pengambilan polip akan mencegah kanker berkembang. Biasanya dokter akan memberikan anestesi ringan sebelumnya. Pemeriksaan ini dilakukan secara berkala yaitu setiap 10 tahun.

Pemeriksaan lain untuk mendiagnosa

  • Pemeriksaan melalui rectum (colok dubur)

  • Barium enema

Selang kecil dimasukkan ke rektum sehingga cairan barium (berwarna putih seperti kapur) bisa masuk ke usus besar. Sinar-X khusus selanjutnya akan dipancarkan pada tumor yang tampak sebagai bayangan gelap. Barium mempermudah untuk melihat tumor. Sebelum tes dilakukan, Anda akan diminta berpuasa untuk beberapa jam.

  • Ultrasound (USG)

Tes ini menggunakan gelombang suara untuk mengambil gambar dibagian dalam tubuh. Pola yang tidak normal dari gambar dapat mengindikasikan adanya tumor.

  • Virtual Colonoscopy/CT Colonography

Tes ini membuat rekonstruksi tiga dimensi dari usus besar untuk mendeteksi adanya kelainan. Gambar diambil dalam beberapa detik setelah usus besar dikembangkan dengan karbon dioksida yang dimasukkan melalui selang kecil. Kolonoskopi virtual adalah teknik baru yang masih belum jelas akurasinya.

Stadium

Stadium pada kanker kolorektal terbagi menjadi Stadium 0 hingga Stadium 4. Penentuan stadium akan memberikan informasi mengenai seberapa jauh penyebaran kanker. Pada hampir semua stadium kanker kolorektal, pembedahan/operasi untuk membuang tumor (biasanya disebut ‘segmental resection’) merupakan jenis terapi utama.

  • Stadium 0

Tumor ditemukan dalam ukuran kecil dan terbatas pada bagian dalam usus besar dan rectum. Terapi yang dilakukan adalah pembedahan.

  • Stadium 1

Tumor telah masuk ke lapisan usus lainnya, tapi belum menyebar ke luar dinding usus besar. Terapi yang dilakukan adalah pembedahan.

  • Stadium 2

Tumor telah menyebar ke luar dinding usus besar atau rectum, menyebar ke jaringan terdekat tetapi belum sampai ke kelenjar getah bening. Terapi yang mungkin dilakukan adalah pembedahan, kemoterapi dan radiasi.

  • Stadium 3

Tumor telah menyebar ke kelenjar getah bening terdekat tetapi belum sampai ke organ tubuh yang letaknya lebih jauh. Pilihan terapi pada stadium ini adalah pembedahan, kemoterapi dan radiasi.

  • Stadium 4

Tumor telah menyebar ke organ tubuh atau jaringan lain seperti hati dan paru. Pilihan terapinya adalah pembedahan, kemoterapi, radiasi dan terapi sasaran (targeted therapy).

Pilihan Terapi Saat Ini

Pilihan terapi sangat tergantung pada stadium, posisi dan ukuran tumor serta penyebarannya.

  • Pembedahan/ operasi

  • indakan ini paling umum dilakukan untuk jenis kanker yang terlokalisir dan dapat diobati.

    • Radioterapi/ radiasi

    Tergantung pada letak/posisi dan ukuran tumor, radioterapi hanya digunakan untuk tumor pada rektum, sehingga mempermudah pengambilannya saat operasi. Radioterapi juga bisa diberikan setelah pembedahan untuk membersihkan sel kanker yang mungkin masih tersisa.

    • Kemoterapi

    Kemoterapi menghancurkan sel kanker dengan cara merusak kemampuan sel kanker untuk berkembangbiak. Pada beberapa kasus kemoterapi diperlukan untuk memastikan kanker telah hilang dan tak akan muncul lagi.

    • Terapi Sasaran (Targeted Therapy)

    Salah satu jenis terapi sasaran adalah antibodi monoklonal. Antibodi ada dalam tubuh kita sebagai bagian dari sistem pertahanan tubuh yang disebut sistem kekebalan (sistem imun) yang berfungsi melawan penyebab penyakit seperti bakteri. Antibodi monoklonal dapat bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh alamiah untuk secara khusus menyerang sel kanker. Terapi ini digunakan secara kombinasi dengan kemoterapi. Berbeda dengan kemoterapi yang menghancurkan semua sel termasuk sel sehat pada tubuh (sistemik), terapi sasaran memiliki target tertentu sehingga memiliki efek samping yang lebih minimal.

    Persiapan Kunjungan ke Dokter

    Bila dokter Anda mencurigai Anda mengalami kanker kolorektal, Anda akan dirujuk untuk menemui dokter sub spesialis antara lain:

    • Dokter yang menangani penyakit yang berhubungan dengan pencernaan (gastroenterologi)

    • Dokter yang melakukan bedah digestif (digestive surgeon)

    • Dokter yang menangani kanker (hematologi onkologi medik, bedah onkologi)

    • Dokter yang melakukan radiasi pada kanker

    Pasien sebaiknya melakukan persiapan guna memaksimalkan konsultasi dengan Dokter, termasuk:

    • Mengetahui persiapan apa yang perlu dilakukan

    • Tuliskan gejala-gejala yang dialami

    • Tuliskan perubahan pada hidup akibat gejala yang pasien alami

    • Tuliskan obat-obat yang sedang dikonsumsi

    • Pertimbangkan untuk membawa anggota keluarga atau kerabat dekat.

    Terkadang keluarga atau kerabat dekat bisa membantu pasien menjawab pertanyaan Dokter ketika pasien dimintai keterangan oleh Dokter atau ketika pasien lupa untuk menyampaikan keterangan tertentu kepada Dokter pasien

    • Tuliskan pertanyaan untuk dokter

    Terkait dengan kanker kolorektal, terlampir adalah beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dipahami:

    • Ada di stadium berapa kanker saya?

    • Dimanakah kanker saya berada di dalam usus besar?

    • Apakah kanker telah menyebar? Jika iya, kemana saja?

    • Apakah arti hasil pemeriksaan patologi saya?

    • Bolehkah saya mendapatkan hasil pemeriksaan patologi?

    • Apakah saya perlu menjalankan pemeriksaan lebih lanjut?

    • Apakah pilihan terapi yang tersedia untuk saya?

    • Seberapa efektik terapi ini?

    • Bagaimana cara pemberian terapi ini?

    • Berapa lama saya harus menjalani terapi?

    • Bagaimana saya bisa mengetahui secara pasti kalau terapi tersebut bekerja dengan baik?

    • Efek samping apa yang mungkin akan timbul?

    • Bagaimana dampak terapi ini pada aktifitas saya sehari-hari?

    • Siapa yang bisa saya hubungi untuk mendapatkan informasi dan dukungan?

    Pencegahan

    1. Dengan Pola makan yang baik yaitu mengkonsumsi makanan tinggi serat dan tinggi protein, mengurangi konsumsi daging merah dan lemak jenuh yang berasal dari hewani.

    2. Melakukan aktifitas fisik secara rutin/olah raga.

    3. Menggunakan obat-obat chemoprevention seperti Aspirin dan golongan obat-obat anti-inflamasi non steroid.

    Hidup dengan Kanker

    Menerima diagnosa dokter memiliki kanker bisa membuat pasien kehilangan rasa percaya diri. Terlampir adalah beberapa tips yang bisa berguna bagi pasien:

    • Pahami kanker agar membuat keputusan mengenai perawatan

    Dapatkan informasi mengenai kanker sebanyak-banyaknya. Ketahui terapi yang dijalankan dan efek samping yang mungkin akan dialami. Tanyakan Dokter, cara-cara mengatasi efek samping terapi. Catat efek samping yang di alami dan sampaikan ke dokter saat konsultasi dengan dokter.

    • Patuh mengikuti rekomendasi dokter

    Patuh dalam menjalankan terapi penting untuk mencapai tujuan terapi secara optimal.

    • Bangun dukungan kuat dari keluarga selama menjalankan terapi

    Memiliki dukungan yang kuat dari keluarga dan kerabat dekat bisa membantu pasien selama menjalani terapi. Walaupun ingin untuk menutup diri, cobalah membuka diri dengan keluarga atau kerabat dekat.

    • Cermati efek samping terapi dan ketahui cara mengatasinya

    Setiap terapi memiliki efek samping yang berbeda-beda. Mengetahui efek samping dan cara mengatasinya bisa mendukung pasien menjalankan terapi.

    • Berkenalan dengan survivor penderita kanker

    Mungkin pasien merasa keluarga atau kerabat dekat tidak bisa memahami apa yang dialaminya karena mereka pun belum pernah mengalami yang dialami pasien. Bila demikian, mendengar pengalaman para survivor bisa membekali pasien dengan informasi yang berguna.

    • Pola hidup sehat dan teratur

    Pastikan pasien menjalankan pola makan sehat dan istirahat secukupnya. Makan sehat dan cukup istirahat membantu pasien melawan stres, menjaga keseimbangan fungsi tubuh dan rasa lelah akibat kanker.

    • Bersikap positif


    Referensi

    1. Globocan 2008.

    2. J. Ferlay, F. Bray, P. Pisani and D.M. Parkin. GLOBOCAN 2002: Cancer Incidence,

    Mortality and Prevalence Worldwide IARC CancerBase No. 5. version 2.0, IARCPress,

    Lyon, 2004

    1. World Health Organization. Cancer http://www.who.int/mediacenter/factsheets/fs297/en/

    2. Boyle P, Langman JS. ABC of colorectal cancer. Epidemiology. BMJ 2000; 321:805–808.

    3. Bendardaf R. Colorectal cancer: from epidemiology to current treatment. www.ljm.org.ly – Libyan J Med, AOP:060714, July 2006:1-10.

    4. Hawk ET, Levin B. Colorectal Cancer Prevention. J. of Clin. Oncol., 2005;23(2):378-91.

    5. Boyle P and Ferlay J. Cancer incidence and mortality in Europe, 2004. Annals of Oncology.
      doi:10.1093/annonc/mdi098.

    6. Fernebro E, Halvarsson B, Baldetorp B, Nilbert M. Predominance of CIN versus MSI in the development of rectal cancer at young age. BMC Cancer, 2002;2(25):1-8.

    Sumber: Roche Indonesia